Salam, Selamat Datang di Jurnal dan Komunitas Matapelajar.
Silahkan masuk atau mendaftar untuk membuat halaman blog serta catatan personal anda.

Close

Bernama

Blur
Personal Sabtu, 03 September 2011

“Paamprok Dulur” Insan Muttaqin

 

 

 

AMQ

Sabtu  (03/09) Ikatan Alumni SMA Al-Muttaqin , kembali menggelar acara temu kangen, dalam rangka halal bihalal. Bertema “ Paamprok Dulur”. Acara yang turut mengundang seluruh angkatan SMA Al-Muttaqin, yakni dari angkatan 1-9. Namun hanya beberapa angkatan yang menghadiri acara tersebut, bertempat di Aula SMP Al-Muttaqin.  Suasana hangat, dalam memperelat tali silaturahim adalah cara yang paling berkesan dalam langkah usia, terkhusus untuk para alumni. Mereka dapat bertemu kembali dengan para saudara yang sudah terbentuk selama menjalani pendidikan di SMA Al-Muttaqin. Membangkitkan kembali ingatan-ingatan lampau, dengan ruah canda dan airmata di dalamnya.

 

Suasana Idul Fitri masih kental terasa. Saling memaafkan dan mendo’akan suatu hal yang membawa kebaikan dan bahagia hadir bersama, di hari yang fitri. Acara dilaksanakan berkat kepanitiaan angkatan 5 dan yang terlibat di dalamnya. Guru-guru yang menghadiri ikut pula menambah sketsa kehangatan. Meski terbilang sedikit Guru yang hadir di karenakan beberapa guru masih sibuk dengan acara mudik, dan lainnya. Namun ketiga guru dapat mewakili, arti kehadiran sosok guru yang selalu ada untuk para siswanya.

 

Di akhir acara, dimeriahkan dengan hadirnya Perkusi Bangsal 13  yang mewarnai semarak kemegahan di hati. Dilanjutkan, serempak para peserta melepaskan balon dengan harapan yang telah ditulis di secarik kertas kecil, lalu diikatkanya pada ujung tali balon tersebut.

 

“Semoga ikatan selalu tetap terjaga. Semoga semakin bergantinya tahun, semakin tuanya Al-Muttaqin kita bisa lebih kompak dan mensukseskan Al-Muttaqin ke depannya. Kita harus menanamkan nilai kritis di diri kita masing-masing soalnnya dengan kritis itu sendiri kita dapat membuat sekolah lebih maju lagi. “ Ujar Verli, angkatan 6

 

(Affrilia, Q-Smart)

Personal Jumat, 10 Juni 2011

Catatan Berekor Kuda Dengan Keranda di Tubuhnya

Oleh : Affrilia Utami

 

/1/

aku tidak bisa sedekat itu dengan alas kukumu

silau cahaya buatku tertunduk mengembalikan ingatan lampau

melangkah melewati sampah-sampah setelah rumah tangismu

kamu tidak akan pernah tahu

seberapa banyak coretan penuhi catatan bathinku

liriklah barang sebentar, aku menunggu dua matamu

di lampu tua, pinggiran jalan-jalan yang mengatarkan

kehidupan -

pada kematian.

/2/

sepatu-sepatu terpasang disatu wajah

diam-diam berjalan, bersuara rangkak, dan mengendus-ngendus

tapi kamu berlari dengan pecutan dari pak Kusir yang tak hafal arah jalan

lupa bertanya pada Tuhan.

 

kamu tersesat,

jadi

mayat yang sekarat .


/3/

dia bertanya padaku, tentang kabar kematian tiga hari kedepan

dia mengancam agar aku menghapus dan merobek-robek nisan

yang menuliskan nama ditubuhnya. dia berniat membunuhku

–di neraka.

 

/4/

kau tahu arti sepi?

barangkali yang kau tahu hanya tentang kematian sepi

atau titik-titik dengan barisan membentuk garis

membentuk raut yang aku tidak kenali barang sesaat pun

kau tahu arti hidup?

tapi kau hanya menjelaskannya dengan nafas dan nafsu.

 

/5/

mereka berkata bahwa ini bumi tempat manusia bercinta.

tapi aku bersuara, ini tempat kebencian terlahir dengan gerak

berkembang menyumbangkan benih di bumi yang ada dirahimmu.

untuk kemudian membangun dan menghancurkan. begitulah fasenya.

 

10 Juli 2011

Personal Sabtu, 04 Juni 2011

Racauan yang Belum Sempat Tuntas Pada Jam(mu)

Ini aku.

Genangan penantian-

tentang mimpi-mimpi yang sama

dia miliki.

Kepada bintang timur seusai takhbiratul ikhram.

 

Inilah

Aku yang menyanggupi dalam senyummu,

yang ketika itu dia tahu.

Aku sembunyi

........ dikecil airmatamu.

 

 

Ini adalah aku.

Sebaris nyanyian sore,

--membatik do'a kematian di tubuhmu.

Dia paham aku telah terkubur lama, dan

tinggal dalam menara kehidupan anak nelayan.

Mengarungi tubuh usiamu. Dari Zaman Paleolitikum.

.....dari palung dua telapak tanganmu.

 

 

Lihatlah ini aku!

Membakar otak malam dengan peluru

--kakikaki semut.

Ketika dia membangunkanmu

dari hikayat penyiksaan rindu yang lindu.

Saat upacara kepedihan ayatayat -

j

a

t

u

h

............. digetar jiwa

detak jantungmu dan aku.

 

Dan inilah aku

racauan yang tak tuntas pada dengkuran waktu

yang setia mengaji dalam jam tunggu.

--dengan mulutmu,

aku pinjam.


02 Juni 2011

Personal Sabtu, 04 Juni 2011

Kepulangan Tsunami di Matamu

Aku menjadi mayatmayat kecil yang tidak ada dikeranda, saat itu. Ada beratus ikan terkapar, perahu dan kapalkapal pesiar, tumbuh jadi serakan sampah di bawah kakikakimu. Seorang lelaki gontai berlari membawa jari kelingking kearah sunyi disekitar pecahan gelombang yang masih melahirkan kandungan. Dari do'a pada barisan shaf Masjid mereka menanam segala yang tersisa.

Dalam pahit airmata.

 

Aku tak sempat menemukan ibu, dan lupa belum menyisiri wajah dari kematian. Menggoreng separuh jantung waktu yang telah asin di atas pasir berwarna darah. Darahdarah kemudian membentuk jalan keheningan menuju gelombang kesekian dan berpasang dengan yang terbunuh satu perdua dikali seribu korban. Aku meminjam matamu, ketika itu. Sandal jepit, lemari patah, jendela tanpa kaca, rangka atap berpisah, kayu isi rayap, pintupintu, dan bajubaju ibu kutemukan di sebalah mayatku.

Tapi, aku belum menemukan ibu.

 

 

aku mati, ketika masa itu di depan matamu

aku mati berulang kali dengan asin matamu.

kematian yang tak ada dikeranda,

di matamu..

 

Mei 2011

Personal Sabtu, 04 Juni 2011

Sepercik Api, Titik Hujan

lihatlah taman di dadaku

bermain sepercik bunga api

dengan titik hujan.

 

Tiap hujan kualirkan matapena menuju hilir yang tak bernama muara. Mengambil tali layanglayang dan menarik langit lebih dekat. Agar gerimis lebih jadi hujan di telapak garis tangan. Memang dingin, memang aku yang mengikat dingin ini. Mencari sesudut ruang dengan tungku berjari api unggun. Kubawa dari sisi hujan, masih santun dan anggun. Hujan kali ini bermata curiga, menunggu  lagulagu gua yang terlahir semata karena waktu, yang sebagiannya kita sebut syurga karena rindu tak lagi berpura.

 

Dalam surau ini, hujan mengajak bergurau. Sekaratku jadi racau, yang kian kacau. Kelak akan ada hujan yang hangat buatmu seriang dulu. Mengajak cacing tanah, kumbang kembang, para jangkrik, dan belalang-belalang yang baru pulang dari ilalang bersama matahari tua. Saga senja, membawa raga, do'ado'a kehidupan. Mereka menari depan dada halaman yang kita tanam dengan cara  rahasia. Hingga sama lupa, kapan terakhir kali kau jadi pawang pengendali hujan dengan semerbak bunga yang wanginya ada baumu. Sepercik bunga api. Dari pinggir riak kecil mengalir...

 

 

Biar tubuhku menggigil

jika kelak aku menjelma tangkai...

 

Maret 2011

Personal Sabtu, 04 Juni 2011

Aku dan Jika Jadi

Aku dan jika saling bersembunyi. Berlari dan tak henti bertanyatanya, mengangkat tangan setinggi tiang menara bendera Negara. Berlari sambil bermimpi. Berlari dengan senandung rindu yang  sama kami taruh tanpa penutup panci. Berulangkali, aku berlari dan berpurapura menyembunyikan rasa amarah, rasa sesal, rasa yang membuatku karam tuk meredam. Keasingan rasa. Seperti aku dengan gaungan sang Srigala yang lapar karena dingin cuaca, karena sepi yang merenda dan rontok tiap lusin kemasannya. dan aku masih ada untuk jika.

 

Seperti ini  aku merangkulmu dalam ingatan yang cukup prematur untuk terhapal dan dangkal untuk terlupakan. Dengan mengenalmu dalam sunyi, aku menemukan jalanjalan menuju yang hilang dan terbagikan. Carut dari rampasan tawa tahanan zaman. Jika jadi aku mati hari lalu.

 

Diamdiam aku dan dia mencuri sebakul jika yang muram, dan beberapa liter airmata telah jadi dengan didih. Tenunan do'a sepanjang hikayat sawahsawah, berwajah dari kulit punggungmu. Lipatan harapan dari ruas garis setia ruku' dijarijarimu dan aku.

 

Adamu dalam do'aku.

Sumbu panjang yang tertimbun beberapa kuburan.

Dari satu cahaya.

Lantas saja aku bisa di jika.

 

Maret 2011

Personal Minggu, 15 Mei 2011

Hujan Tanpa Reda

ku buka bekas dari lipatan hutan,

barisan puisi yang tertanam dibenam dada.

dengan hujan yang menolak reda.

.... titik mendung dalam ranjang....

sediakan basah,

genangan purnama.

 

 

selaci rautmu mantra tatanan hujan.

dan, di hitam rambutmu tumbuh mimpi sebelum jadi.

seikat rembulan di kamar, bersajak dengan jarak.

bir dan arak bulan sabit memabuk.

...... mapihkan yang tak percuma....

 

 

deram langkah gulita atau kembang kenanga?

do'a dan hujan. Sama belum surut jua.

kutanamkan rengkuhan air wudhu.

pada subuh anak tangisan jaman.

.......... membutuhkan ibu.

 

 

hujanhujan bergugur membacakan

....... wajahmu; setubuh kerinduan.

 

. April 2011

Personal Minggu, 15 Mei 2011

Si Anak Bertopi Kancil

Anak dengan baju hijau, bercelana dalam biru. Tingginya tidak lebih dari samping paha atasku. Membawa lubang tikus, dari dapurdapur petinggi hukum dan kesejahteraan para penguasa. Katanya, ia baru saja mencuri uang senilai tujuh ribu rupiah yang sudah hampir habis masa berlakunya. Padahal, ia hanya mencari sesuap nasi, atau sagu agar bapak ibu dan adiknya bisa bangun dari tidurnya yang panjang. Menahan rasa lapar.

 

Anak dengan baju hijau, bercelana dalam biru. Tingginya tidak lebih dari samping paha atasku. Bercerita tentang tebal dompet yang sempat ia temukan di bendungan dekat Masjid Al-Istiqlal. Hingga dalamnya hampir membuat matanya tenggelam, dibenam isi dombet yang tidak kurang hanya berisi kertaskertas struk pembelanjaan, tanggihan hutang, wesel,check giro, dan kartukartu yang ia tidak tahu. Dia kembali membuang dompet di dalam toilet yang tadi sudah dikencinginya sambil berkata “Aku masih lapar!”.

 

Anak dengan baju hijau, bercelana dalam biru. Tingginya tidak lebih dari samping paha atasku. Membawa dua batu dari pinggir Taman Ismail Marzuki, diketuk-ketuk barangkali ada yang akan keluar, mungkin uang untuk dimakan, suara untuk ditindih dalam baranya siang, atau batu itu sendiri yang digigit sampai rasa lapar berhenti di Bundaran HI. Sepanjang ia membekal batu, tidak ada uang atau sisa temuan. Sore itu, lagi-lagi polisi dan banyak sirine kematian lewat saat para petinggi lewat, sambil asyik di dalam menonton blue film dalam rapat ‘mengatas namakan kepentingan rakyat’, disaksikan kecoa yang ada didalam sepatu hitam gosong mereka. Dan dia tetap mendengarkan puisi jalanan dalam tiap ketukan batu.

 

Anak dengan baju hijau, bercelana dalam biru. Tingginya tidak lebih dari samping paha atasku. Mencari sisa banjir kemarin sore, atau pada malam ini. Sambil membawa plastik-plastik, sampah sisa gincu merah kupukupu malam, atau limbah dari koperkoper dengan kuci, hasil suap yang sudah membasi sampai ditangannya. Tapi anak kecil tersebut masih berjalan, mengiring mimpi ikuti lampulampu kemacetan. Dia terus berpikir tentang bapak dan ibu juga para adiknya yang masih tertidur belasan hari, lamanya.

 

Anak dengan baju hijau, bercelana dalam biru. Tingginya tidak lebih dari samping paha atasku...

Heran

Memahami

Betapa berlubang

Kehidupan, di Negara ini.

 

. April 2011

"Talk Less, do More... 

writing is the most economical way of speaking"

Ikuti Affrilia Utami di:
  • matakamu