Salam, Selamat Datang di Jurnal dan Komunitas Matapelajar.
Silahkan masuk atau mendaftar untuk membuat halaman blog serta catatan personal anda.

Close

D. Dudu Abdul Rahman

Hanya seorang dan salah satu dari sekian penulis aktif matapelajar.com
Berita Jumat, 30 Juli 2010

Menulis di Mata Mereka

MATA PELAJAR MANAGEMENT (28/07), seiring waktu berjalan, arah jarum jam menunjukkan pukul 01. 30 WIB. Namun, obrolan menarik semakin bergulir, mulai dari topik pasar hingga pejabat nanar. Yang meramaikan diskusi malam itu, Maman Noer Zaman, A. Dwi Rusmianto, Arief Reff, Dede Sukana, dan saya. Dari semua obrolan malam itu, diskusi yang paling menarik adalah pembahasan  pengalaman menulis masing-masing.


Maman Noer Zaman mengatakan, menulis adalah pahlawan hidup. Pengertian tersebut memiliki nilai historis tersendiri. Akibat seorang ayah temperament, membentuk karakter dirinya menjadi seorang pendiam, perenung, dan sensitive terhadap lingkungan sekitar. Hal tersebut memberi pengaruh perkembangan psikologi, sehingga memunculkan niat untuk mengungkapkan segala peristiwa yang dialami, dapat dituangkan ke dalam sebuah tulisan. Maman, menginginkan perubahan sikap dari seorang ayah, agar tidak terlalu keras (“mendidik” dan “tersenyum”) kepadanya. Hingga pada suatu hari, Maman, mengirimkan sebuah artikel ke surat kabar lokal, dan akhirnya dimuat oleh surat kabar tersebut. Pada saat itu juga, Maman memperlihatkan surat kabar yang memuat artikelnya kepada ayahnya. Mulai saat itu, perlakuan seorang ayah yang tadinya keras, berkurang. Berdasarkan pengalaman tersebut, menulis, bagi Maman, pahlawan yang mewujudkan hubungan harmonis antara anak dan ayah.


Sementara, menurut A. Dwi Rusmianto, menulis merupakan peristiwa yang diendapkan dalam pikiran, kemudian dituangkan ke dalam tulisan.


“Menulis adalah rasa”, ucap Dede Tsukana. Sebuah tulisan tertuang, karena proses pengolahan rasa dari pengalaman fisik dan batin seseorang dapat dikembangkan.


Berbeda dengan ketiga pengertian di atas. “Menulis itu seru”, cetus Arief Reff, seorang pengembara sastra yang sering menjaring sajak di Situ Gede.


Saya memiliki pendapat yang berbeda, menulis adalah sebuah pengorbanan. Selain waktu, hal yang harus dilakukan oleh seorang penulis dalam membuat sebuah tulisan; mengendapkan bahan tulisan, merenungkan manfaat dari tulisan, dan bertanggung jawab terhadap dampak tulisan itu sendiri, artinya pengorbanan di sini merupakan kesadaran penulis.  


Dari ke-lima pengertian di atas, menulis merupakan salah satu jiwa patriotisme yang harus mengorbankan waktu dan pikiran (gagasan), mengendapkan bahan, merenungkan manfaat, bertanggung jawab atas isi, mengolah rasa, mampu menuangkan dan menarik perhatian pembaca.


Sejalan dengan Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan, menulis merupakan salah satu cara berkomunikasi. Pengertian-pengertian di atas, memiliki sinergitas yang sangat penting untuk dijadikan modal memulai menulis. Bahwa pengalaman merupakan guru terbaik perjalanan hidup manusia, begitu juga menulis, dapat dituangkan dengan baik karena intensitas, loyalitas, proses dan dedikasi tinggi terhadap kemampuan “membaca” peristiwa sehari-hari, sehingga menjadi informasi yang bermanfaat bagi orang lain. ***

Berita Rabu, 21 Juli 2010

SEKOLAH SEBAGAI TEMPAT MENUNTUT ILMU

 


Oleh :
DINI NUR KHAIRINA


Sekolah?

Sekolah merupakan tempat sarana bagi seorang pelajar untuk menuntut ilmu.Mendapat ilmu pengetahuan,baik dengan cara membaca,menyimak ataupun berdiskusi dengan teman-teman.Di sekolah itu bukan hanya untuk mendapat ilmu pengetahuan saja,akan tetapi di sekolah juga kita dapat belajar mandiri,sopan santun,tata tertib,disiplin serta saling menghargai.


Ilmu pengetahuan?


Kita sebagai seorang pelajar,mendapat ilmu pengetahuan dari seorang guru di sekolah.Akan tetapi kita mendapat pengetahuan itu tidak hanya di sekolah saja,di rumahpun kita bisa mendapat pengetahuan,bahkan di jalan atau sekalipun dimana-mana kita bisa mendapat pengetahuan.Ilmu pengetahuan itu sangat penting untuk masa depan kita dan ilmu pengetahuan itu dapat menambah wawasan kita.


Sekolah penting?


Di sekolah itu kita akan mendapat wawasan yang lebih luas dengan cara nelajar.Setiap hari kita ke sekolah untuk menuntut ilmu,dan kitapun setiap hari mendapat ilmu pengetahuan yang baru.Sekolah juga dapat menghasilkan anak-anak yang pintar,berpotensi dan berbakat.Dan berkat kita sekolah,kita juga dapat menggapai cita-cita yang kita inginkan.


Jasa guru?


Yang member kita ilmu pengetahuan adalah seorang guru.Bagiku guru bagaikan pulpen atau tinta yang dapat menghias buku kita yang kosong dengan semua pengetahuan.Guru tidak kenal kata “lelah” dan tidak pamrih untuk mengajari kita,guru itu selalu ikhlas dalam menjalankan tugasnya untuk mengajari kita.Hingaa kita bisa menggapai semua impian dan cita-cita kita.


Bagaimana dengan anak yang lainnya?


Adapun teman sebaya kita yang putus sekolah di karnakan tidak mempunyai biaya untuk membayar iuran sekolah,padahal sekolah sudah member keringanan dengan adanya dana BOS.Akan tetapi masih ada saja anak yang lebih memilih bekerja dari pada sekolah,misalnya ada anak yang jadi pemulung,pengamen dan pengemis.


Dini Nur Khairina adalah siswa kelas VI SDN. Perumnas 1 Cisalak Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya. Prestasinya di bidang olah raga tingkat kecamatan, kota dan provinsi.

Berita Senin, 19 Juli 2010

SEKOLAH SEBAGAI TEMPAT MENUNTUT ILMU


Oleh : Alma Febriana
 


Kalian tentu tahu sekolah , pada umumnya sebagai tempat menuntut ilmu . Sekolah bermacam –macam ada Sekolah Dasar (SD) , Sekolah Menengah Pertama (SMP) , Sekolah Menengah Atas (SMA) , dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) . Sekolah pada jaman sekarang bermacam-macam ada Negeri dan Swasta , dan juga Rintasi Sekolah Berstandar Nasional (RSBI) .

 

Saat kalian berumur  6 tahun , kalian akan sekolah di sekolah dasar . Pemerintah menetapkan untuk wajib belajar 9 tahun . Di sekolah ,pertama kali kalian menduduki kelas 1 dan kalian akan diajarkan membaca , menghitung , dan menulis . Saat kalian duduk di bangku kelas 2-6 akan di ajarkan beberapa pelajaran yaitu Bahasa Indonesia , Matematika , Ilmu Pengetahuaan Alam (IPA) , Ilmu pengetahuan Sosial (IPS) , Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) , Pendidikan Agama Islam (PAI) , Bahasa Inggris , Seni Budaya Keterampilan (SBK) , Pendidikaan Lingkungan Hidup (PLH) dan sebagainya . Kalian akan di didik oleh guru .

 

Di sekolah terdiri dari beberapa ruangan yaitu Ruang Kelas 1-6 , Ruang Guru , Ruang Perpustakaan , Ruang Guru dan sebagainya . Ruang kelas 1-6 adalah ruang belajar para murid . Ruang Perpustakaan adalah ruang yang dipenuhi oleh buku untuk dibaca oleh warga sekolah . Ruang Guru adalah Ruang berkumpulnya para guru untuk rapat atau mendiskusikan masalah sekolah . dan juga ada UKS , UKS adalah Usaha Kesehatan Sekolah yang berguna untuk jika ada murid yang sakit akan di tangani oleh UKS . Disekolah pun ada lapangan yang berguna untuk olahraga , upacara dan lain –lain .

 

Setelah kalian lulus di kelas 6 kalian akan melanjutkan sekolah ke SMP (Sekolah Menengah Pertama ) selama 3 tahun ada juga yang 2 tahun atau disebut juga Axel . Kemudian kalian akan melanjutkan sekolah ke SMA (Sekolah menengah Atas ) atau SMK (Sekolah menengah Kejuruan ) . SMK adalah sekolah dengan kejuruan atau jurusan . Dengan SMK kalian bisa langsung bekerja . Setelah SMA kalian juga dapat melanjutkan ke Perguruan Tinggi mendapatkan pekerjaan . Dengan sekolah kalian bisa bekerja . dan juga mendapat ilmu yang bermacam –macam . Nah,itulah gunanya sekolah sebagai tempat menuntut ilmu . Dengan ilmu yang tinggi kalian bisa mencapai cita-cita kalian setinggi mungkin . ***


Alma Febriana adalah siswa kelas 6 SDN. Perumnas 1 Cisalak Kecamatan Cipedes. Siswa ini, memiliki segudang prestasi, selain juara kelas, juga sebagai juara baca dongeng se-Kota Tasikmalaya berturut-turut selama 2 Tahun. Sering mengikuti lomba-lomba pendidikan, baik tingkat kecamatan, kota dan provinsi.

Berita Rabu, 14 Juli 2010

Empat Band Tasikmalaya Terjungkal di Seleksi Tahap ke Dua A Mild Wanted 2010



Minggu (11/07), tepat pukul 03.00 WIB, band-band dari berbagai daerah Jawa Barat berkumpul di Mithas Pub (Cirebon) dalam rangka seleksi tahap ke dua A Mild Wanted Outer Bandung untuk mewakili wilayah Cirebon dan sekitarnya ke Jakarta – tahap final – menuju pemilihan sepuluh band nasional. Sore itu, setiap personil band lengkap dengan wardrobe dan accesoris, menunjukkan genre dan gaya musik masing-masing. Dengan juri tidak asing; Kang Noey (Musica), Teddy (Musica), perwakilan media nasional, dan dari pihak “Brand A” itu sendiri (penyelenggara), berusaha seobjektif mungkin mencari band yang terbaik dalam seleksi tahap ke dua tersebut.

 

 Monday's Blue Band (Pic/Management)

Dari enam belas band yang mewakili daerah Jawa Barat, beberapa diantaranya berasal dari Tasikmalaya  : Monday’s Blue, Templet, Lidy dan Ragstar, ke empat band ini terpilih setelah seleksi pertama – Demo  CD via radio Style FM – dikirimkan ke Jakarta – dinilai langsung oleh pihak panitia yang mengadakan acara A Mild Wanted 2010.


Ke empat band yang berasal dari Kota Tasikmalaya, berjuang dengan memberikan suguhan terbaik kepada Juri dan penonton sore itu. Dengan penilaian yang ketat, masing-masing band menampilkan genre musik yang unik dan menarik. Seperti Monday’s Blue yang menyuguhkan Pop Monday, sejenis aliran musik -- dominasi fill in yang berkhazanah – tidak sepi – catchy – meskipun   dengan empat orang personil. Sementara, Templet yang beraliran pop alternatif, tidak jauh beda memberikan penampilan yang menawan. Begitu juga Ragstar dan Lidy, dengan genre masing-masing, membuktikan band-band dari Tasikmalaya patut diperhitungkan di kancah industri musik nasional – intinya patut dibanggakan – meskipun berasal dari daerah kecil yang nota bene terkenal dengan musik dangdutnya.


Setelah ke enam belas band finalis  seleksi tahap ke dua tampil, empat juri nasional memutuskan, yang mewakili wilayah Cirebon dan sekitar menuju final A mild Wanted 2010 di Jakarta adalah Free Noise dari Cirebon, sementara posisi ke dua disabet oleh Lidy (Tasikmalaya) dan The Qyu (Majalengka). Para personil dan pendukung Free Noise (Cirebon) merayakan euforia kemenangan mereka, terlihat setelah juri (Teddy/Musica) membacakan band yang mewakili ke Jakarta, sekitar pukul 21.00 WIB.

 Templet Band (Pic/Management)

Meskipun agak kecewa para personil band dari Tasikmalaya mencoba menerima kekalahan yang ‘terkesan’ berpihak kepada band tuan rumah. Meskipun begitu, para personil band dari Tasikmalaya menerima dengan lapang dada atas terpilihnya Free Noise sebagai perwakilan wilayah Cirebon ke Jakarta. “Kita coba lagi tahun depan, mudah-mudahan kita bisa belajar dari audisi sekarang dan bisa mewakili Tasikmalaya ke jakarta”, tegas Anggie (drummer Monday’s Blue).


Setelah pengumuman band yang terpilih menuju final A Mild Wanted 2010 wilayah Cirebon dan sekitar, ditutup dengan penampilan apik dan harmonis oleh Geisha Band alumni A Mild Wanted 2007. Band asal Pekanbaru ini, melengkapi sekaligus mengakhiri acara Seleksi Tahap ke dua A Mild Wanted 2010 Outer Bandung – Cirebon – di Mithas Fun & Pub. (D. Dudu AR) ***

Berita Rabu, 23 Juni 2010

Mengenalkan Jurnalisme Bagian 2

Kedatangan redaktur Kabar Priangan (Duddy RS) dan Budayawan (Dwi A. Rusmianto), Sabtu pagi (13/06) ke SDN. Perumnas 1 Cisalak Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya, dalam rangka meninjau pembentukan jurnalis cilik yang direkomendasikan guru kelas kepada kepala sekolah (Tati Heryati, S. Pd.), disambut meriah oleh siswa-siswi Kelas V. Selain merintis jurnalistik di sekolah, juga bertujuan menajamkan konsep jurnalisme yang sempat dilaksanakan, Rabu (02/06).
Sebelum kegiatan dimulai, setelah keduanya memperkenalkan diri kepada siswa, saya mempersilahkan Kang Duddy RS untuk memegang kendali proses pembelajaran. Adapun tugas Kang Dwi Rusmianto sebagai dokumenter, dan saya memantau siswa selama kegiatan berlangsung.
Kegiatan diawali dengan memberikan stimulus kepada siswa, mengingat dan membahas kembali kegiatan jurnalisme sebelumnya. Duddy RS, sebagai pemateri mengevaluasi terlebih dahulu kegiatan siswa Kelas V minggu lalu. Kemudian, mengajak siswa berdiskusi, tentang kalimat berita yang mereka ketahui. Sekedar mengingatkan siswa, beliau, menenteng koran yang disediakan guru, di meja kelas, yang memang digunakan sebagai sumber pembelajaran hari itu. Mengajak siswa menela’ah hasil tulisan yang kebetulan hasil kegiatan siswa dan saya ”Mengenalkan Jurnalisme Kepada Siswa” tempo hari yang dimuat di HU Kabar Priangan halaman pendidikan, Jum'at (04/06).

”Siapakah orang yang ada di dalam foto?”, Kang Duddy memulai pertanyaan kepada siswa. ”Si ganteng Pak”, celetuk salah satu siswa, Roqi. ”Annisa pak”, Yuneu pun menjawab. ”Sandal siapa yang ada di foto?”, kemudian Kang Duddy bertanya lagi. ”Sandal Mang Amin, Pak”, yang lainnya pun menjawab, dst.
Menurut penjelasan beliau, cara identifikasi di atas, siswa sudah memiliki kemampuan melakukan kegiatan jurnalistik. Hal ini, tidak jauh berbeda dengan kegiatan sehari-harinya sebagai wartawan HU Kabar Priangan dalam mencari suatu peristiwa di lingkungan masyarakat sebagai bahan pemberitaan. Melalui langkah pengenalan suatu tokoh atau masalah hingga dijadikan sebuah berita adalah tindakan jurnalis, menurutya.


Setelah kegiatan tanya jawab, siswa diperintahkan untuk menceritakan pengalaman selama kegiatan jurnalisme minggu lalu. Dengan ingatan yang masih segar, per kelompok, para siswa menceritakan kembali pengalaman masing-masing. Beliau pun terperangah, melihat keaktifan siswa yang detail menceritakan pengalaman jurnalisnya.

Setelah itu, beliau, menceritakan pengalamannya selama menjadi wartawan HU Kabar Priangan. Beliau menjelaskan, suatu harian umum surat kabar, harus memiliki pengurus media, yang peranannya sangat penting bagi keberlangsungan media itu sendiri. Beliau pun menjelaskan tugas-tugas pengurus suatu harian umum surat kabar, diantaranya : Komisaris (Pemilik surat kabar), Pimpinan Redaksi (membawahi redaktur-redaktur), Redaktur (membawahi reporter-reporter), dan terakhir Reporter yang mencari berita di lapangan.

Barulah siswa mulai faham tentang perjalanan suatu berita sampai dimuat di surat kabar. Mereka pun diajak melakukan kegiatan seperti yang telah dijelaskan di atas. Namun, sebelum kegiatan dilanjutkan, beliau terlebih dahulu meresmikan pembentukan Komunitas Jurnalisme di SDN. Perumnas 1 Cisalak. Sesuai saran beliau, akronim ”Percisa (Pers Cilik Siswa Cisalak)”, sangat menarik bila dicetuskan sebagai nama komunitas jurnalis SDN. Perumnas Cisalak. Tanpa panjang lebar, saya pun setuju dengan nama yang disematkan untuk komunitas jurnalis cilik tersebut.

Setelah meresmikan nama komunitas jurnalis cilik, siswa diberi tugas sesuai tugas yang telah dibagi sebelumnya; Pimpinan Redaksi (Yusrina), Redaktur (Yunia, Salsabila, Soraya, Viska dan Nadya) dan siswa lainnya diposisikan sebagai reporter.

Hari itu juga, sebelum diakhiri, beliau, Dwi Rusmianto dan saya, mengondisikan siswa melaksanakan tugas masing-masing, layaknya bekerja di suatu harian umum surat kabar. Dalam simulasi hari itu, Yusrina (Pimred), memimpin rapat bersama redaktur-redaktur, kemudian redaktur-redaktur memberikan perintah kepada reporter-reporter. Berhubung waktu terbatas, kegiatan tadi dilangsungkan secara berkesinambungan, sesuai jadwal kegiatan ekstrakurikuler jurnalisme.


Nantinya, hasil dari kegiatan tersebut akan dijadikan ”Mading Percisa” dan mungkin juga dimuat di sabasakola HU Kabar Priangan, sebagai motivasi jurnalistik ke siswa-siswi SDN. Perumnas 1 yang baru merintis kegiatan jurnalis khususnya dan sekolah-sekolah dasar lainnya yang ada di Tasikmalaya, umumnya.

Siswa-siswi kelas V SDN. Perumnas 1 Cisalak, mungkin akan menjadi pelopor mata pelajar sekolah dasar yang memiliki komunitas ”Pers Cilik Siswa Cisalak” jurnalisme di Kota Tasikmalaya. Apalagi, jika didukung oleh segenap stakeholder di lingkungan sekolah, sebagai upaya mewujudkan Pembelajaran Aktif Kreatif dan Menyenangkan (PAKEM), siswa akan merasa betah, senang dan antusias dalam proses pembelajaran. Kegiatan ini akan menjadi wadah bagi siswa dalam mengembangkan bakat dan minatnya.

Sebagai pendidik, saya, mengajak rekan-rekan guru lainnya untuk mengembangkan kegiatan serupa. Agar sikap reflektif kepedulian siswa terhadap peristiwa dan lingkungan, menjadi salah satu pembelajaran yang langsung diaplikasikan oleh mereka.
Sebagai guru kelas, saya menyarankan kepada kepala sekolah, agar kegiatan ini dijadikan salah satu ekstrakurikuler yang harus dipertahankan. Karena, melalui kegiatan ini pola pikir siswa menjadi kritis-dinamis. Tidak bisa dipungkiri kegiatan jurnalisme akan dicintai siswa-siswi sebagai pembelajaran yang aplikatif dan kreatif. ***

Berita Selasa, 08 Juni 2010

Kegiatan Jurnalis Siswa SDN. Perumnas 1 Cisalak Kecamatan Cipedes

Oleh : D. Dudu AR., S. Pd.

 


Rabu (02/06), siswa Kelas V SDN. Perumnas 1 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya, melaksanakan kegiatan wawancara di lingkungan sekitar dalam rangka pembelajaran Bahasa Indonesia. Kegiatan ini, selain tuntutan Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan, diilhami oleh redaktur Kabar Priangan (Duddy RS), sebagai ajang pengenalan jurnalisme sejak dini.

Hari itu, guru Kelas V SDN. Perumnas 1 Cisalak, D. Dudu AR., S. Pd., membagi siswanya menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok, beranggotakan dua orang. Sebagai langkah awal, mereka diberi tugas mencari topik sesuai yang diinginkan. Dalam diskusi, siswa terlihat sangat antusias, satu sama lain saling berbagi tugas; sebagai reporter dan penulis bahan berita. Setelah topik berita disepakati kelompok, guru kelas V memberikan pengarahan dalam melakukan wawancara. Guru membimbing siswa, membuat pertanyaan sebagai bekal wawancara. Dasar membuat pertanyaan untuk wawancara, siswa disuruh membuat pertanyaan dengan kata tanya; apa, kenapa, bagaimana, siapa, berapa, dst. Kemudian, setelah bahan pertanyaan dibuat, siswa diajak keluar, terjun langsung ke lapangan, mewawancarai orang-orang yang dijadikan sumber sesuai dengan topik berita masing-masing kelompok. Guru memantau dan mengarahkan siswa saat wawancara berlangsung. Mungkin saja, ada kelompok yang masih belum bisa mengawali kegiatan wawancara alias canggung.

Setelah kegiatan di luar, siswa kembali ke kelas untuk merangkai kalimat berita dari hasil wawancara. Kalimat berita wartawan profesional dengan wartawan cilik (siswa), tentu berbeda. Maka dari itu, guru Kelas V, memberikan contoh kalimat-kalimat berita yang dimuat di surat kabar. Agar siswa memahami kalimat-kalimat berita yang baik dan benar.

Hasil dari kegiatan tersebut, keterampilan siswa dalam menulis kalimat berita, mengalami peningkatan. Setidaknya, melalui kegiatan wawancara, siswa lebih gampang memahami penulisan kalimat berita, ketimbang dengan metode konvensional, salah satunya ceramah.


Banyak hal yang unik dan menarik ketika kelompok siswa melaksanakan tugas wawancara, mereka meikmati kegiatan tersebut. Adapun yang mereka wawancarai diantaranya; siswa Kelas VI, adik kelas, siswa yang sedang olahraga, ibu-ibu yang menunggu anaknya, si bibi kantin sekolah, penjaga sekolah, dlsb.

Kegiatan wawancara ini, selain mengembangkan 4 aspek berbahasa siswa; berbicara, membaca, menulis dan menyimak, menumbuhkan rasa ingin tahu siswa dalam suatu permasalahan, sehingga cara berpikir mereka menjadi “kritis tapi etis”, sesuai motto Harian Umum Kabar Priangan. Semoga dengan langkah kecil ini, sedikit memberi inspirasi dalam meningkatkan keterampilan siswa menulis kalimat berita Bahasa Indonesia. Terimakasih.

Opini Senin, 26 April 2010

UASBN SD bukan Musuh yang Harus Ditaklukkan dengan Cara Tidak Sehat

"Nanti, saya akan bekerjasama dengan guru-guru Kelas VI UPTD. Entah Berantah, meminta sisa soal yang dikirimkan Dinas Pendidikan untuk UASBN SD tahun ini", cetus salah seorang ibu yang berseragam dinas guru di angkot. Hati mendadak meringis, setelah mendengar perbincangan salah satu pengajar itu dengan kawannya. Betapa tidak, ketidak percayaan atas kemampuan siswa-siswinya menghadapi UASBN SD, yang sebentar lagi dilaksanakan di awal Mei 2010, menghancurkan esensi pendidikan itu sendiri. Siswa dipaksa untuk mendramatisir sebuah evaluasi yang berstandar nasional tersebut. Siswa sudah memiliki jawaban-jawaban dari gurunya, sehingga dalam pelaksanaannya mereka tinggal mengisi lembar jawaban. Mau jadi apa generasi negeri ini? Meskipun 20 tahun ke depan jika tidak ada kesadaran berbagai pihak dalam memajukan pendidikan, negeri ini tetap berada di belakang negara lain.

Opini Selasa, 20 April 2010

Meningkatkan Daya Cipta dan Apresiasi Puisi Siswa Kelas 5 Sekolah Dasar Dengan Menggunakan Model Contextual Teaching and Learning

Sastra merupakan bagian dari bahasa, secara implisit bisa dikatakan sebagai  bentuk bahasa yang mengungkapkan  pemikiran dengan  perlambangan, kiasan (metáfora), dan retorika bahasa si penulis dalam menyampaikan pesan. Sementara, puisi adalah salah satu bentuk sastra yang memiliki aturan-aturan tertentu;  larik, isi, bait, dst.

Sehubungan dengan  hal di atas, sastra akan lebih dicintai siswa, apabila guru menggunakan model pembelajaran yang kreatif dalam  meningkatkan daya cipta dan apresiasi sastra (puisi) di kelas. Salah satu model yang dapat digunakan adalah Model Contextual Teaching and Learning.

Ikuti D. Dudu Abdul Rahman di:
  • matakamu