bangsa ini rapuh karena masyaraktnya tidak bersatu, Negara ini hancur karena tidak adanya keadilan dan Republik ini akan tertinggal apabila generasi penerus telah teracuni oleh budaya-budaya yang merusak.
Generasi penrus merupakan elem penting untuk pembangunan bangsa, apabila generasi penerus suatu bangsa telah bobrok tak ada lagi yang bisa diharapkan. Bahkan zaman abu sofyan atau yazid bin muawiyah akan terlihat kembali di zaman modern ini. Tentu kita tidak menginginkan itu semua. Bagi yang peduli terhadap kemajuan bangsa, ini merupakan problematika yang harus di pecahkan. Bagaiamana agar generasi penerus negeri ini sesuai dengan apa yang diharapkan para pendahulunya.
berawal dari sebuah kepedulian terhadap tanah air juga sebagai salah satu upaya membangun dan meningkatkan kualitas mahasiswa kabupaten cimis, mahasiswa yang tergabung dalam "Forum Mahasiswa Lintas - Ciamis" hari ini Kamis (19/1) akan mengadakan Silaturahmi Perdana dan Penyatuan Visi mahasiswa yang bertempat di Kantin Kembang Galuh [samping islamic center ciamis] tepatnya pukul 07.30.
FORMAL, begitu sapaan akrab forum ini, merupakan perkumpulan yang berdiri dan didiraikan dari sebuah kepedulian dan semangat untuk membangun kabupaten ini. Sampai saat ini telah tercatat 246 mahasiswa yang ikut berpartisipasi dalam forum ini.
kegiatan ini dilakukan sebagai langkah awal untuk mengembangkan potensi para mahasiswa di tatar galuh ini."ini merupakan langkah awal bagi mahasiswa tatar galuh untuk memajukan daerahnya, dan kegiatan ini terbuka bagi siapapun mahasiswa yang berasal dari ciamis. Juga tidak membatasi antara universitas yang ada" ungkap salah satu pengurus Formal.
agenda yang dalam waktu dekat akan di adakan Forum ini adalah pelatihan Jurnalistik. Seiring dengan perkembangan zaman, mahasiswa di tuntut untuk mampu bertanding dengan kerasnya dampak yang timbul dari peperangan ini. Salah satunya adalah kemampuan Jurnalistik. Diharapkan agenda pelatihan ini mampu menghasilakn sebuah dorongan bagi mahasiswa untuk menceburkan dirinya terhadap dunia jurnalistik ini. "Forum ini pun selain tempat berkumpulnya mahasiswa tatar galuh, juga sebagai sarana dakwah. Dengan belajar jurnalistik yang salah satunya terdapat kegiatan tulis - menulis. Minimal kita (mahasiswa) mampu mengungkapkan apa yang menjadi tujuan kita lewat media ini" Tutur Winy selaku Ketua Formal.
Walau kontribusi kita terhadap negeri ini baru dimulai, tetapi kalau kita kerjakan secara terus menerus akan membuahkan hasil yang besar. Jangan menganggap sepele hal yang kecil. Karena semua bermula dari hal kecil. Semoga Forum ini bisa menjelma menjadi salah satu bagian penting di kabupaten ini!! Semoga!
Jhon "Husain" MSy
Mahasiswa IAID - Ciamis
RM2I (Remaja Masjid Mandiri Informasi) Masjid Agung Ciamis
Forum Mahasiswa Lintas - Ciamis Gelar Pertemuan Perdana
Olimpiade Jurnalistik
Kata olimpiade adalah kata yang tak asing lagi bagi telinga kita. Namun bagaimanakah apabila olimpiade ini dikaitkan dengan dunia Jurnalistik? Ya. Olimpiade Jurnalistik, mungkin kata itulah yang cocok untuk menggambarkan kegiatan yang berlangsung ahad (02/10) di Kampus MAN Darussalam Ciamis. Even yang diberi nama Journalist For Student (jfs) V ini berbeda dengan kegiatan sebelumnya. “memang kami sedikit memodifikasi” ujar Akbar sebagai ketua pelaksana.
Dalalm JFS V kali ini di gelar 4 lomba yang kesemuanya berkutat di bidang Jurnalistik. Yaitu Lomba Fotografi, Membaca berita, menjadi Reporter dan menulis artikel. Dan tentunya mendatangkan juri-juri yang professional yaitu dari Galuh TV dan Koran Kabar Priangan.
Ajang yang menggabungkan antara Workshop dan 4 lomba ini di ikuti oleh sekitar seratus peserta se-Priangan timur. Yang uniknya adalah ada salah satu peserta yang mengikuti ajang ini sejak angkatan pertama yakni JFS I. Sungguh luar biasa, ini menggambarkan betapa pedulinya para remaja di wilayah priangan timur ini terhadap dunia Jurnalistik.
Di penghujung acara ada persembahan teater dari anak –anak teater Faslah Ponpes Darussalam. Suguhan ini cukup menghibur peserta worksop. Tim teater yang di motori sayidah iklima dkk menampilkan kolaborasi antara teater dengan tari (tari saman). “wah sangat menarik” tutur salah satu peserta.
Even ini di akhiri dengan foto bersama di depan aula.
Husein d’james
Baju Kopral / Reportese
IAID Ciamis
Wahana wisata air menjamur
Indonesia yang sebagian besar wilayahnya adalah perairan, membuat warga Negaranya lebih cenderung terhadap lokasi-lokasi yang lebih banyak sumber airnya. Bahkan masyarakat Indonesia akan sangat tidak nyaman ketika telah kekurangan air.
Keadaan tersebut menjadi modal utama bagi para pengusaha wahana wisata air. Dengan melihat kenyataan yang terjadi, tak heran apabila akhir-akhir ini banyak wahana wisata air bertebaran di berbagai pelosok negeri.
Sebagai contoh di kawasan priangan timur Prov Jawa Barat, waha wisata air mulai bertebaran di mana-mana. Yang terbaru adalah di Kabupaten Ciamis, yaitu Mega wisata Icakan. Yang terletak di daerah Baregbeg Ciamis. Walau terbilang baru, tetapi tak menyurutkan minat para pengunjung untuk menjajal area wisata ini. Terlihat dengan banyaknya pengunjung yang berdatangan dari berbagai daerah dalam ataupun luar kota. Sebut saja Zahra warga kecamatan Rajadesa yang rela menempuh perjalanan kurang lebih selama satu jam untuk turut meramaikan Mega Wisata di Tatar Galuh ini “ya untuk sekedar rekreasi bersama keluarga” tuturnya.
Berbagai fasilitas rekreasi di sajikan bagi para pengunjung. Mulai dari kolam renang, permainan anak seperti beca-becaan dan deldom, flying Fox dan fasilitas lain. Tentunya dengan harga yang sangat terjangkau. Yakni dengan Rp. 5000 saja, kita bisa menikmati Indahnya pemandangan dari saung-saung kecil yang ada di areal wisata.
Wahana yang dibangun atas dasar kepedulian seorang Pengusaha Besi baja terhadap kampung halaman yakni Tatar Galuh, menghabiskan biaya yang tidak sedikit. 3 Milyar lebih telah dikeluarkan pengusaha yang memiliki beberpa cabang di daerah Priangan ini.
Tidak hanya Mega Wisata Icakan yang berdomisili di daerah Ciamis, kota Tetangga yakni Kota Banjarpun tidak kalah dengan Waterpaknya. Bahkan di Ciamis selatan yang terkenal dengan keindahan pantai Pangandaran juga berdiri sebuah wisata air lain yaitu Waterpak Pangandaran.
Lain Ciamis lain pula Tasikmalya. Wahan air yang terus menjamur di Kota Resik ini membuat para pengunjung leluasa memilih tempat wisata sesuai dengan kemampuan dan minat para pengunjung. Karena di kota yang terkenal dengan sebutan kota Santri ini sangat banyak sekali wahana wisata air. Dari yang murah sampai yang memerlukan rupiah yang tidak sedikit. Sebut saja waterbom maarif yang hanya memasang tariff Rp 5000 sampai TeeJay Waterpak yang membandrol Rp 30.000 per orang.
Tanpa disadari kedaan kita sangat di pengauhi oleh lingkungan di sekitar kita, kecenderungan yang ada pada diri kita bisa jadi ada kaitannya dengan alam dunia. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menggunakan semua fasilitas yang ada dengan cara yang cerdas.
M Husain Ksyf (Jhon)
Baju Kopral
IAID Ciamis
MAHASISWA HARUS BEDA DENGAN ANAK SD

Minggu kemarin tepatnya tanggal 13/09 kebanyakan perguruan tinggi telah memulai pembelajaran di kelas. Bahkan tidak sedikit Perguruan TInggi yang telah lebih awal memulai proses pembelajaran di kelas, sebagai Contoh Universitas Pendidikan Indonesia, Institut Teknologi Bandung dan banyak lagi. Sebagai mahasiswa baru, menginjakan kaki di sebuah Universiats/Institut dan belajar di dalamnya merupakan suasan baru. Memang dalam segi belajar kita sudah terbiasa sejak mulai bersekolah di bangku Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI). Bahkan sejak lahirpun Sang Khalik telah mewajibkan kita untuk menuntut Ilmu.
Dikatan Maha, karena bersekolah di Perguruan Tinggi merupakan jenjang tertinggi pendidikan Formal di Negara kita. Tentu kita sebagai mahasiswa tidak ingin gelar ‘maha’ yang ada pada diri kita hanyalah sebagai hiasan saja dan tidak berpengaruh terhadap sikap kita.
Apakah Mahasiswa sama dengan Siswa Sekolah Dasar? Tentu beda, tetapi sama dalam hal belajar. Definisi belajarpun sangat luas. Belajar adalah bagaimana seseorang menjadi tahu, belajar juga adalah proses perubahan diri seseorang dll.
Kemudian bagaimana cara agar kita tidak disamkan dengan anak SD?? Sangatlah Mudah. Yang paling utama adalah sikap kita yang harus berbeda dengan anak SD. Sebagai contoh adalah sikap Mandiri yang ditanamkan pada setiap diri mahasiswa. Apabila sikap tersebut tidak ada pada diri kita, kita bisa disamakan dengan anak Sekolah Dasar, yang cenderung lebih banyak di beri oleh guru. Atau dalam bahasa sunda sering disebut “di suapan ku guru”.
Nah agar kita berbeda dengan siswa sekolah dasar, dan predikat ‘maha’ yang secara otomatis melekat pada diri kita tidak sia-sia, diperlukan peningkatan skill di perguruan tinggi. Dengan cara
Diperlukan kondisi aktif dan kreatif : mahasiswa kuliah bukan sekedar, semata-mata, atau terutama mendengarkan kuliah, tetapi untuk meneliti dan mencermati pembahasan para dosen terhadap masalah tertentu.
Tidak masuk bangku perkuliahan dengan ‘OTAK KOSONG’ itu berarti sebelum perkuliahan dimulai minimal kita telah mengetahui sekilas tentang pelajaran yang akan kita pelajari dikelas.
Bersikap Kritis. Dan ini merupakan salah satu cirri utama mahasiswa. Dan salah satu pembeda juga dengan anak SD
Frekuensi membaca lebih ditingkatkan
Dan yang terakhir adalah bagaimana sikap kita dalam mengikuti pembelajaran. Yang biasanya kita suka ‘berisik’ dalam diskusi, marilah belajar untuk menghormati. Yang tadinya kerap kali melihat pekerjaan orang, marilah kita belajar untuk menumbuhkan rasa Responsibility yang ada pada diri. Dan lain-lain.
Apabila kelima aspek diatas sudah ada pada diri kita, Insya Allah kita akan sangat berbeda dengan anak SD. Dan layak menyandang gelar Mahasiswa seutuhnya. Mengapa dikatakan seutuhnya? Karena banyak para Mahasiswa yang tidak utuh. Pekerjaannya hanya nongkrong, hura-hura dsb.
Juga Sebagai mahasiswa, kita juga perlu mengingat Seven Habits of Highly Effective Student yang di tulis oleh Steven Covey.
- Bertanggung jawab atas dirimu sendiri.
- Pusatkan dirimu terhadap nilai dan prinsip yang kamu percaya.
- Kerjakan dulu mana yang penting.
- Anggap dirimu berada dalam situasi "competition" (bukan situasi "win-win" lagi).
- Pahami orang lain, maka mereka akan memahamimu.
- Cari solusi yang lebih baik.
- Tantang dirimu sendiri secara berkesinambungan.
Tentu sebgai mahasiswa muslim, ketujuh Prinsip diatas harus di selaraskan dengan nilai-nilai luhur Agama. Ketika agama telah menjadi Baromter bagi kita, insya Allah kita akan merasakan “Double Winner”. Yakni kita telah menjadi Pemenang di Alam dunia juga Akhirat. Karena dalam sebuah keterangan “Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya Allah akan memudahkan urusan dunianya, tetapi apabila dunia adalah tujuannya Allah akan mempersulit dirinya”. Intinya semua usaha yang kita perjuangkan di dunia tujuannya adalah untuk akhirat. Wallahualam.
M Husain Ksyf (Jhon)
Institut Agama Islam Darussalam – Ciamis
Baju Kopral
TAMADA 2011 MANTAP! Learning Skill di Perguruan Tinggi
Seperti yang telah diberitakan Harian Kabar Priangan edisi Jum’at 9 September 2011 Institut Agama Islam Darussalam melaksanakan kegiatan Taaruf Mahasiswa Darussalam atau sering disebut TAMADA. Even yang berlangsung selama 4 hari ini di ikuti oleh sekitar 250 peserta yang kesemuanya adalah mahasiswa baru dan ada juga mahasiswa lama yang belum melaksanakan kegiatan tamada.
Mengapa mahasiswa lamapun yang belum melaksanakan tamada di wajibkan mengikuti, dikarenakan Tmada adalah salah satu syarat untuk mengikuti ujian di akhir perkuliahan atau biasa disebut ujian Munakasyah dan sebagainya.
Acara ini di buka secara resmi oleh Wakil Riktor Bidang P3M. Bpk Drs H Momon Kosasih. Dalam sambutannya Wakil rector mewakili Rektor menggucapakn permohonan maaf karena dalam pembukaan ini Bapak Rektor yang sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam yakni Bapak KH DR Fadlil Munawwar Manshur, M.S tidak bisa hadir.
Dalam Tamada tahun ini berbagai kegiatan dilakasanakan. Mulai dari Materi para Dosen, Olah Raga, Game sampai kepada acara bakti social di Lingkungan Ponpes Darussalam. Materi yang disajikanpun sangat menarik dan luar biasa, oleh karena itu penulis ingin berbagi dengan sahabat semua mengenai ilmu yang di dapat dari para pemateri.
Learning Skill di Perguruan Tinggi
(Sumadi M.Ag)
Dosen IAID, sekretaris Program Pasca Sarjana IAID
Mengawali penyampainnya Bp Sumadi terlebih dahulu menayangkan sebuah kata-kata bijak yang kurang lebih seperti di bawah ini “Pabila ingin mengubah sebuah keadaan, Saya harus mengubah diri saya lebih dahulu,Dan untuk mengubah diri saya secara efektif,Saya lebih dahulu harus mengubah persepsi saya…”(Stephen R. Covey, Penulis Buku Seven Habits)
Dalam pembahasannya beliau menjelaskan berbagai cara agar sukses dalam perkuliahan. Dosen yang juga pernah merasakan suasana Hawai USA ini mengatakan bahwa ada dua Keywords untuk efektif kuliah. Salah satunya adalah Memiliki Motivasi untuk sukses Kuliah dan sukses hidup (how to be success). Memiliki motivasi adalah hal yang biasa dalam diri manusia, tapi menjadikan motivasi itu sebagai factor atau jalan menuju sukses (dunia dan akhirat) itu adalah luar biasa. Karena betapa banyak orang memiliki motivasi tinggi untuk merusak dunia dan sebagainya. Dan tentu motivasi yang paling penting adalah motivasi yang bersifat ukhrowi bukan bersifat duniawi. Karena dalam sebuah keterangan “Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya Allah akan memudahkan urusan dunianya, tetapi apabila dunia adalah tujuannya Allah akan mempersulit dirinya”. Dengan demikian sebelum kita membangun motivasi tersebut kita harus meluruskan niat terlebih dahulu, karena segala sesuatu tergantung pada niatnya. Dalam membangun motivsi dalam diri kita, perlu aspek-aspek penunjang. Dalam materinya beliau menyebitkan “Suskses itu hasil tabungan kerja keras, disiplin, dan kebaikan kita. Samakin disiplin, kerja keras dan berbuat baik maka semakin bahagia dan sukses hidup kita”.
Ketika kita mempunyai kemauan untuk sukses disaat itu kita akan melewatii semua rintangan yang menghalang. Yang menjadi maslah “maukan hidup anda menjadi sukses?” di pertengahan pembahasannya Pak Sumadi menceritakan bagaimana dirinya bisa menjadi salah satu perwakilan dari 40 orang yang berkesempatan menginjakan kaki di Hawai selama satu semester atau 6 bulan. Setelah penulis perhatikan, bahwa keberhasilan beliau adalah merupakan Gabungan dari semua kerja keras yang dijalani selama ini. Seperti yang telah dijelaskan di atas yakni gabungan dari kerja keras, disiplin, berbuat baik dan tawakkal kepada Sang pencipta. Tawakkal dalam hidup dapat menjadikan diri kita orang yang selalu mensyukuri nikmat. Ketika semua usaha telah dilakukan, bagaimanapun hasilnya kita percayakan pada sang khalik. Begitu Pula yang dirasakan Pak sumadi ketiak beliau mengikuti sebuah seleksi yang di adalakan salah satu Lembaga Milik Amerika Srikat di Indonesia. Seleksi masuk tersebut adalah untuk mengisi bagian Audik Internal dalam lembaga tersebut. Tentu saja haruslah orang yang berkompeten untuk mengisi bagian tersebut. Beliau mengatakan “saat itu saya harus bersaing dengan orang-orang yang luar biasa, lulusan luar negeri dll saya hanya bertawakal pada Allah setelah usaha yang maksimal telah saya lakukan”. Hasil dari sebuah kerja keras berbuah manis, beliau terpilih setelah dua peserta lain yang keduanya merupakan lulusan S2 luar negeri di sebutkan panitia. “waktu itu saya masih ingat, ketika panitia menyebutkan dua nama sebelum saya yang keduanya merupakan lulusan luar negeri, tapi Alhamdulillah di urutan ketiga panitia menyebutkan Sumadi lulusan S1 IAID Ciamis”. Berikut adalah gambar di ambill ketika beliau berada di EWC Hawai USA
M Musytakul Husain K (Jhon)
Baju Kopral
IAID Ciamis
Catatan I’tikap Masjid Agung Ciamis 1432 H – 2011 M
10 Malam terakhir adalah hari-hari yang penuh dengan keberkahan. Karena Di antara 10 malam tersebut akan datang malam yang lebih baik daripada seribu bulan yakni malam lailatul qodr. Setiap umat islam di seluruh pelosok dunia berlomba-lomba untuk mendapatkan malam utama tersebut. Berbagai amalan di lakukan mulai dari memperbanyak membaca al-Qur’an, sedekah, beri’tikap di masjid dll.
Tak ketinggalan umat muslim di kabupaten ciamis. Pemerintahan setempat yang bekerjasam dengan DKM (Dewan Keluarga Masjid) Masjid Agung Ciamis mengadakan acara I’tikap untuk membantu umat islam di kab ciamis. Rangkaian itikap di awali dengan acara seminar tentang menghapal Al-qur’an yang di isi oleh Ust Ja’far dari Bandung.
Ikatan kekeluargaan sangat terasa ketika penulispun mengikuti kegiatan I’tikap ini. Meski pesertanya tak sebanyak peserta di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dsb. Tapi arti yang sangat besar begitu melekat. kebersamaan yang tetap terjaga, semangat yang tetap membara dan rasa kasih sayang yang amat besar terpancar dari setiap peserta itikap yang penulis temui.
Yang sangat luar biasa adalah tidak hanya masyarakat kabupaten Ciamis yang mengikuti kegiatan ini, tetapi warga kota tetangga Tasikmalaya pun ada yang mengikuti kegiatan ini. Subhanallah semuanya berkumpul dalam satu tujuan yang haqiqi, yakni mengharap ridha sang pencipta.
Semoga Kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan Tahun depan. Amiin.
Melewati Metamorfosis Ramadhan
Bulan yang penuh dengan keberkahan beberapa hari lagi akan melambaikan tangannya, dan pergi meninggalkan kita. Tanpa kita tahu apakah tahun depan kita masih bisa bertemu dengannya. Ramadhan memberikan begitu banyak pelajaran bagi kita semua. Kita patut bersyukur kepada Allah dengan nikmat Ramadhan ini, karena tak sedikit orang yang pergi meninggalkan dunia sehari atau bahkan beberapa jam sebelum Ramadhan.
Dengan kita masih diberi nikmat oleh sang pencipta untuk merasakan bulan keberkahan, itu artinya kita masih diberikan kesempatan untuk membersihkan diri. Kita bisa ibaratkan bulan ramadhan sebagai metamorphosis kepompong dalam kupu-kupu. Sebelum menjadi kepompong seekor kupu-kupu hanyalah ulat yang kebanyakan orang menganggapnya jijik. Dengan masuknya kedalam dunia kepompong, kupu-kupu tersebut mencoba menghilangkan semua bulu-bulu dan yang ada pada dirinya, membersihkan badannya dan merubahnya kelak dengan sesuatu yang lebih indah atas izin Allah.
Begitupun dengan kita, Bulan Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk kita melakukan metamorphosis. Dalam arti, dalam satu bulan ini kita berusaha untuk membersihkan diri, dan mempersiapkan untuk menyambut fase selanjutnya, sehingga ketika hari yang fitri telah tiba, kita akan bertebaran dengan penuh keindahan,
Semoga yang diri kita ada pada genggaman-Nya selalu mengalirkan hidayanh-Nya dan memberikan kemudahan pada kita, setelah kita memasuki masa perjuangan kepompong ramadhan dan kita kembali menjadi insan yang fitri. Sebagaimana seekor ulat yang keluar dari kepompong menjadi kupu-kupu yang sangat mempesona. Amien..
M Husain Ksyf
Baju Kopral
IAID Ciamis
Bangga Menjadi Santri
Bangga Menjadi Santri
Istilah pesantren berasal dari kata pe-santri-an, dimana kata "santri" berarti murid dalam Bahasa Jawa. Istilah pondok berasal dari Bahasa Arab funduuq (فندوق) yang berarti penginapan. Khusus di Aceh, pesantren disebut juga dengan nama dayah. Biasanya pesantren dipimpin oleh seorang Kyai. Untuk mengatur kehidupan pondok pesantren, kyai menunjuk seorang santri senior untuk mengatur adik-adik kelasnya, mereka biasanya disebut lurah pondok. Tujuan para santri dipisahkan dari orang tua dan keluarga mereka adalah agar mereka belajar hidup mandiri dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan dengan kyai dan juga Tuhan.
Berbicara masalah santri, Hampir seluruh masyarakat di kawasan nusantara ini tak asing lagi mendengar kata ini dalam benak mereka. Umumnya kata santri diidentikkan bagi seseorang yang tinggal di pondok pesantren yang kesehariannya mengkaji kitab-kitab salafi atau kitab kuning, dengan tubuh dibungkus sarung, peci, serta pakaian koko menjadi pelengkap atau menambah ciri khas tersendiri bagi mereka.
Asal-usul kata santri sendiri menurut Nur Kholis Majid sekurang-kurangnya ada 2 pendapat yang dapat di jadikan bahan acuhan. Pertama, berasal dari bahasa sangsekerta, yaitu "sastri", yang berarti orang yang melek huruf. Kedua, berasal dari bahasa jawa, yaitu "cantrik", yang berarti seseorang yang mengikuti kiai di mana pun ia pergi dan menetap untuk menguasai suatu keahlian tersendiri.
Berbeda menurut Dr. KH. MA. Sahal Mahfud yang justru kata santri dijadikan menjadi bahasa Arab, yaitu dari kata "santaro", yang mempunyai jama' (plural) sanaatiir (beberapa santri). Di balik kata santri tersebut yang mempunyai 4 huruf arab (sin, nun, ta', ra'),
“kalau menurut saya santri itu berasal dari dua kata, yaitu dari san dan tree. Berarti dengan menjadi santri ibarat matahari yang selalu menerangi dan pohon yang menyejukan” begiutulah makna santri menurut Muhamad Farhan atau yang akrab di sapa Faank, fokalis grup band Wali.
Menjadi santri pondok pesantren bagi sebagian orang merupakan hal yang paling ditakuti bahkan kebanyakan orang enggan menjadi seorang santri. Orang beranggapan bahwa ketika menjadi seorang santri harus selalu memakai sarung, peci dan ngaji setiap saat. Ketika seseorang menyandang gelar santri berarti dirinya tidak bebas, terkekang, dll. Itu merupakan salah satu persepsi yang salah. Apalagi dengan isu-isu bahwa pondok pesantren akan melahirkan teroris-teroris yang menghancurkan Negara. Isu seperti itu hanyalah taktik mereka (orang kafir) untuk melemahkan umat islam, dengan begitu orang-orang jadi enggan menyekolahkan putra-putrinya ke lembaga pesantren.
Kita harus mengetahui bahwa pesantren adalah salah satu lembaga untuk menciptakan umatan wasatan yakni umat pertengahan yang di ajarkan rasul. Seorang guru ngaji berkata “mun urang biasa di ajar di sakola umum etamah naga hiji kola tapi lamun urang di ajar plus di pasanatren berarti dua kola”, dua kola dalam arti selain kita mendapatkan pelajaran umum disekolah kita juga akan mendaptkan pelajaran agama di pesantren. Dan pelajaran agama sangatlah penting bagi kita semua.
Tanpa kita sadari Lembaga Pondok Pesantren telah melahirkan insane-insan yang tangguh, yang tidak kalah bersaing di era globalisasi ini. Sebagai contoh seorang Mahfud MD yaitu ketua mahkamah konstitusi Negara ini adalah berasal dari pesantren, grup band wali yang mayoritas personilnya berasal dari pesantren ketenarannya tidak kalah dengan grup band papan atas lainnya dsb.
Ini membuktikan bahwa pondok pesantren adalah lemabga multi yang cocok untuk para generasi muda sekarang. Mengapa di kota – kota besar 90% para remaja telah melakukan hub suami istri? Dan 60% diantaranya tidak perawan lagi? Kita bisa bayangkan apabila mereka menimba ilmu di dunia pesantren, mungkin hal seperti tu dan kenakalan lain tidak akan terjadi.
Sebagai institusi sosial, pesantren telah memainkan peranan yang penting di Indonesia dan negara-negara lainnya yang penduduknya banyak memeluk agama Islam. Alumni pondok pesantren umumnya telah bertebaran di seluruh wilayah Indonesia. Beberapa alumnus pesantren juga telah berkiprah di pentas nasional, yang terkenal antara lain:
1. (alm) KH Abdurahman wahid / Gusdur yang pernah menjadi Presiden RI
2. Hidayat nur wahid pernah menjabat sebagai ketua MPR RI
3. Mahfud MD Ketu Mahkamah Konstitusi (MK) sekarang
4. Amien Rais mantan ketua MPR RI
5. Prof. Nurkholish Madjid mantan (Rektor Universitas Paramadina)
6. Dr. Din Syamsuddin (Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dan masih banyak lagi.
7. Peranan pesantren
Peran Pesantren
Pondok Pesantren di Indonesia memiliki peran yang sangat besar, baik bagi kemajuan Islam itu sendiri maupun bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Berdasarkan catatan yang ada, kegiatan pendidikan agama di telah dimulai sejak tahun 1596.Kegiatan agama inilah yang kemudain dikenal dengan nama Pondok Pesantren Bahkan dalam catatan – salah seorang pengkaji ke-Islaman di Indonesia, menjelang abad ke-12 pusat-pusat studi di Aceh dan Palembang (Sumatra), di Jawa Timur dan di (Sulawesi) telah meng hasilkan tulisan-tulisan penting dan telah menarik santri untuk belajar
Moderenisasi pesantren
Sebab-sebab terjadinya moderenisasi Pesantren daiantaranya:
Pertama, munculnya wancana penolakan taqlid dengan “kembali kepada dan sunah” sebagai isu sentral yang mulai di tadaruskan sejak tahun 1900 Maka sejak saat itu perdebatan antara kaum tua dengan kaum muda, atau kalangan reformis dengan kalangan ortodoks/konservatif, mulai mengemukan sebagai wancana public, Kedua: kian mengemukannya wacana perlawanan nasional atas kolonialisme belanda.
Ketiga, terbitnya kesadaran kalangan Muslim untuk memperbaharui organisasi keislaman mereka yang berkonsentrasi dalam aspek sosial ekonomi.
Keempat, dorongan kaum Muslim untuk memperbaharui sistem pendidikan Islam. Sala satu dan keempat itulah, menurut, yang sejatinya selalu menjadi sumber inspirasi para pembaharu Islam untuk melakukan perubahan Islam di Indonesia.
Mudah-mudahan dengan tulisan sederhana ini, menggugah kita untuk bersama memajukan bangsa dengan dunia pesantren. (dari berbagai sumber)




