BEM IAID Gelar Pelatihan Jurnalistik
Mahasiswa biasanya memerankan diri sebagai golongan yang kritis sekaligus konstruktif terhadap ketimpangan sosial dan kebijakan politik, ekonomi. Mahasiswa sangat tidak toleran dengan penyimpangan apapun bentuknya dan nurani mereka yang masih relatif bersih dengan sangat mudah tersentuh sesuatu yang seharusnya tidak terjadi namun ternyata itu terjadi atau dilakukan oleh oknum atau kelompok tertentu dalam masyarakat dan pemerintah.
Sabtu Malam, Darussalam Rasa Kairo
Berbagai pernak pernik kota tersebut menghiasi Gedung Nadwatul Ummah Pesantren Darusalam. Hamparan gurun disertai oase yang menyejukkan nampak indah dihiasi temaram lampu yang menghiasi panggung. Perempuan bercadar sebagai ikon bangsa Arab hilir mudik melewati hamparan gurun sahara. Laki-laki berjubah yang ditutupi dengan sorban dengan gagahnya bercengkrama di atas gurun. Lailah fil Qahiroh, Semalam di Kairo.
Pembiasaan Bahasa di Dauroh Lughoh
SANTRI Pesantren Darussalam harus bersabar diri. Libur yang dilewati lebih cepat empat hari dari santri atau siswa lain. Mereka harus datang ke sekolah di saat temannya yang lain masih sibuk liburan. Selasa (5/1) kemarin, santri sudah kembali ke Pesantren untuk mengikuti agenda yang sudah dipersiapkan.Untuk mengimbangi tantangan zaman yang semakin kuat, persaingan yang semakin ketat, globalisasi yang terus bergulir, maka santri Darussalam harus bisa melaluinya. Hal inilah yang menjadi penekanan dan melatarbelakangi even yang harus dibarengi kesabaran ini.
Tiga BEM Ciamis Gelar Tabligh Akbar
Sungguh ironi memang, tapi apa mau dikata, kebiasaan telah membentuk jiwa yang melupakan warisan dari para sahabat di masa lalu, yang menetapkan hijrah ke Madinah sebagai awal tahun hijriyah.
Terompet Perang Tahun Baru
“TIGA... dua.... satu ......” berbunyilah terompet yang dibarengi dengan dentuman kembang api dengan sinar yang beraneka macam yang menyedot perhatian karena keindahannya. Tanda sebuah pergantian. Tahun baru telah datang, berjuta kenangan telah dilewati.
Berbagai cara dilakukan orang pada malam pergantian tahun baru itu. Berjalan bergerombol menuju pusat kota untuk menyaksikan detik-detik pergantian tahun. Tidak hanya itu, ada yang pergi ke pesisir untuk menyambutnya. Ke puncak gunung pun dilalui untuk bersuka cita menyambutnya. Bahkan, tinggal di dalam rumah pun dapat menyaksikannya di televisi.
Menyelami Kasih Ibu
PADA suatu malam yang sunyi, dingin menyelimuti, suasana yang tepat untuk istirahat dalam mimpi, tiba-tiba keheningan terusik dengan tangisan seorang bayi, meminta untuk diperhatikan dengan setetes ASI. Kantuk tiba-tiba hilang, demi keselamatan sang buah hati, itulah sepercik perjuangan seorang Ibu.
Ibu adalah sosok yang sangat besar pengorbanannya. Di saat kandungannya ditinggali oleh buah hatinya, kasih sayangnya diberikan untuk anak yang diharapnya menjadi sosok yang berguna kelak. Waktu Sembilan bulan ia rela membawa anaknya ke sana ke mari, melindunginya. Ketika tiba saatnya melahirkan, ia berkorban antara hidup dan mati demi keselamatan sang bayi.
Sepuluh Muharram
BULAN Muharram adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt. Bulan ini bagian dari empat bulan mulia, yakni dzulqa'dah, dzulhijjah, muharram dan rajab. Hal ini berdasar pada firman Allah Swt. “Sesungguhnya jumlah bulan di kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram” (QS. At Taubah (9): 36).
Bulan muharram ini sudah dikenal sejak zaman jahiliyyah. Bulan muharram artinya “dilarang”. Pada zaman sebelum Islam, pada bulan ini dilarang untuk melakukan peperangan dan persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang kemuliaan bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang.
Pensi dan Pawai Meriahkan Tahun Baru





