Salam, Selamat Datang di Jurnal dan Komunitas Matapelajar.
Silahkan masuk atau mendaftar untuk membuat halaman blog serta catatan personal anda.

Close

Puisi

Seni dan Sastra  \  Puisi

Qobla Saum

Ditulis oleh : indra Sabtu, 30 Juli 2011

Waktu ini mendesakku menjelang bulan suci_MU

Tak ada Dzikir, dan hampa

Bulan menjelma waktu

Memaksa angin mendorong Ruh yang tak suka kehadiran ia

 

"Munafik"

Mereka berpura-pura suka dan menambah Dosa

Lambung yang bahagia

Ia berontak menuruti nafsu kita

Ia berkata:

"Sejenak aku akan beristirahat di balik kesakitan kalian"

 

urug sapanjang jalan, 30 2011



 

Seni dan Sastra  \  Puisi

Catatan mungil hari ini

Ditulis oleh : indra Jumat, 29 Juli 2011

Pagi ini hilang kaerena aku kesiangan membuka mata. kesegaran udara pun lenyap berganti dengan polusi kebisingan bahkan kesibukan menjadi tujuan utama baginya, ku regangkan badan ini sesaat betapa gersang sekali halamanku ini

mungkin akan ada sedikit yang harus aku rubah pada semua

"SARAPAN"

 

orockkappas

 

Seni dan Sastra  \  Puisi

Tentang Embun

Ditulis oleh : Affrilia Utami Rabu, 25 Mei 2011

Pada persimpangan catatan waktu

kita bertemu dengan secarik lembar ukhuwah

kulihat luka berpendar di pipimu,

........saat seujung ucapkan pisah.

Senyumku mungkin mengering karenanya.

 

Kita mengambil sisa kapur yang telah patah.

Papan hitam. Penggaris panjang. Kata serta angka-

Jam dinding kusam.

Bangkubangku tua dengan wajah kemasan.

Dari kacamata-

yang retak sebelah.

 

Pergimu meranum luka di jiwa.

Ada lubang.

Bagian gulita.

Aku terhampar lagi, kering terkapar pada gurun sendiri.

 

Inilah fana tentang dunia, yang bersama-

akan pergi, membekal sendiri dan sepi.

yang bertemu akan berpisah. Membilang jejak

bilahan rindu. Sebagian hilang dengan kepedihan.

 

Datanglah dan temui aku di sini, Saudaraku.

Bermain-main kata di atas jari hari,

bukankah kita akan bersama, melukis

dunia dengan kapur tua. Menulis halaman buku-

dengan hembusan Hydragea mempesona.

 

Kita serupa cerita embun, pada pagi yang memuda.

 

25 Mei 2011

 

Seni dan Sastra  \  Puisi

Cemburu

Ditulis oleh : ai hayati m.a Selasa, 19 April 2011

Iring-iringan   warna-warni lampu
Berkeliling pada mata-mata yang cemburu
Samar  terdengar tawa dan canda
Pada rembulan yang di lumuri malam

Entah,
Ke  manakah mentari ketika embun turun
Dan gerimis mulai menyapa  pucuk ilalang
Yang ada hanya nafas yang masih berhembus

aku  tak tahu pada siapa kumengadu
tentang hati yang cemburu
atau,
memposil  jadi kekuatan tak berpilar
 

Seni dan Sastra  \  Puisi

Bingkai Tua

Ditulis oleh : ai hayati m.a Selasa, 05 April 2011

Bingkai yang kian tua
Bersanding pada dinding sukma
Menghiasi sekelumit fotret kehidupan
Yang hanya indah sekilas di ujung mata

Lorong-lorong waktu semakin berlalu
Hingga masa datang dan berguncang
Melepas rakitan figura pada setiap jiwa

Lalu ia terlepas dan terhempas
Kini hanya tampak sisi retak yang tersisa
Dan puing-puing patahan di sudut-sudut zaman
Tinggalah bongkahan yang tak lagi di indahkan
 

Seni dan Sastra  \  Puisi

Doa dalam Berzikir

Ditulis oleh : ai hayati m.a Selasa, 05 April 2011

Aku ingin membuahi sujud-sujudku
Yang lama kesepian mencari silsilah takbirku
Masihkah Kau karamkan sampan taubatku?
Yang kelak akan menjadi anak tangga menuju akhiratku,!

Penyesalan demi penyesalan di antara kesunyian
Membayangi kataku seusai sembahyang
Samar kutemui pelita yang telah rabun
Mewarnai alunan doa-doa dalam sebuah dzikir
 

Seni dan Sastra  \  Puisi

Ilusi Sebuah Memori

Ditulis oleh : ai hayati m.a Selasa, 05 April 2011

Di balik keping-keping hati
Datanglah bersama bintang meredup sunyi
Merasakan jiwa yang resah
Mereguk rindu yang membuncah

Awan hitam melenggang di kediamannya
Kembali kuterbenam dalam sepi
Atas jiwa kering dan hati yang letih
Walaupun hanya sebuah ilusi
Kucoba susun kembali kenangan yang penuh memori
 

Seni dan Sastra  \  Puisi

Berhitung Dalam Melodimu

Ditulis oleh : Affrilia Utami Senin, 03 Januari 2011

Setiap harap sama merindangkan angan, memekarkan rembulan yang tersapu biduan. Seperti sebuah melodi yang kaupetik beberapa kali sesuntuk tadi malam, tanpa ada lagu, tanpa suara merdumu. Tapi aku tahu, hatimu sedang bernyanyi. Hatimu sedang menjadi bunga di antara lautan Sahara. Hatimu sedang mencari sesuatu untuk menutupi celah labirin, sesuatu yang kausebut tentang gundah.

*

Setiap tanya sama mencari jawaban, saling mengajak permainan mini petak umpet. Siapa paling cepat bersembunyi, berlari, mencari dan akhirnya terdapati. Lalu kau mulai berhitung dari angka-angka yang sempat kaukenali, angka yang bermula dari diam lalu berjalan, saling mengikuti. Dengan nama-nama angka yang berbeda tiap urutan. Ada satuan, ratusan, ribuaan angka coba kaupecahkan. Tapi hanya satu angka yang paling buatku bertanya, mengapa ada di antara ganjil yang olah buatku merasakan gigil bilangan dikepingnya.

*

Aku telah membunuh Minormu semalam

 

Lalu menguburnya dalam-dalam ..

Aku menjadi dasar yang dankal

Beranjak menjumlah berapa ada kesal

Hingga terjal

*

Namun, sungai telingamu masih menanti. Seorang tamu yang bergaung-gaung. Menimba air dalam sumurmu dengan perlahan. Masih dalam  penungguan, nada Mayormu.

*

02 Januari 2010

oleh : Afrilia Utami

 

Seni dan Sastra  \  Puisi

Antara Baru dan Lalu Waktu

Ditulis oleh : Affrilia Utami Jumat, 31 Desember 2010

( from : metro.vivanews.com)
Ada yang ingin kucari digemerlap kota ini

 

Mengapa tahun baru banyak sekali api

Berwajah pelangi, mengepul asap-asap pengap.

Mata tiap kepala saling terpaku dibiru tungku.

Lensa-lensa saling berhadap ingin mengingat

Bahwa pernah ada serupa kembang dari api.

Bisa menari, gugur dilangit malam.

 

 

 

( From :google seacrh )
Ada yang ingin kucari digemerlap kota ini

 

Beberapa manusia saling teriak, saling meniup

Bunyi-bunyi dingin di telinga. Dengan keras.

Uap-uap itu tak jadi jejak dalam telapak kilas.

Dan, dalam keramaian baru masih ada lalu berjalan.

Bocah-bocah di pinggir jalanan menyempatkan mata.

Sambil membawa suratkabar, gitar, harap yang nanar

 

 

 

( from : kfk.kompas.com )
Ada yang ingin kucari digemerlap kota ini

 

Di pinggir lampu berdigit, hijau turun merah

Tak sempat lewati kuning.

“Hati-hati mengemudikan sepi!” katanya.

Seorang penari dengan tatarias hendak berpentas.

Menjinjing speaker tampil bernyanyi dengan aki.

Lincah melangkahkan gemulai tubuhnya. Sementara

Kardus bekas yang menganga tak kunjung penuh.

 

 

Ada yang ingin kucari digemerlap kota ini

Mengapa aku bertanya, dan mencari

Meragukan diriku sendiri?

 

 

31 Desember 2010

 

Seni dan Sastra  \  Puisi

Saku Rindu

Ditulis oleh : Affrilia Utami Senin, 27 Desember 2010

aku sedang berjalan waktu itu, tanpa sepatu

tidak ada seorang pun menghentikan langkah

langkah pincangku, hanyalah tongkat titanium

yang ada album nama-nama berfoto

dalam baliho.

tanpa dermaga wajah raba dalam pertemuan

 

perlintasan tujuh jalan, kesepian

 

aku sedang berjalan waktu itu, lupa

tak membekal waktu

kudengar sebuah tangis anak rembulan

yang dibesarkan fajar

tanpa tahu siapa induk rerindu

kian bersinar

 

mungkin dirimu..

 

aku mengigau lengkap namamu

tiap.jeda.nafasku.

agar mata langit tahu

bahwa aku sedang merindu

pada jejak jalan tanpa kelabu lampu,

hanyalah racauan rindu ..

 

kudesirkan namamu pada tiang-tiang angin

agar dia berbisik  pelan padamu

ini tentang rahasia di dalam

saku rindu yang aku sendiri tak tahu seberapa penuhnya

menghilir satu dalam rindu-Nya..

 

14 Desember 2010

: Afrilia Utami